POHON DAN BATU TERBELAH


KAMPUS SAMUDRA ILMU HIKMAH

“Jika apa yang didakwahkan oleh Muhammad itu benar, maka boleh jadi sekarang ia duduk di atas balai-balaiku. Tetapi, besok, mungkin ia akan duduk di atas tengkuk kalian.”

Suatu ketika Abu Jahal bermaksud mendatangi paman Rasulullah Saw. yang sangat disegani oleh orang-orang suku Quraisy, yaitu Abu Thalib – semoga Allah mengampuninya dan merahmatinya. Abu Jahal merasa tak memiliki cara lain untuk bisa menghentikan dakwah Rasulullah Saw., kecuali dengan cara mendatangi pamanda Abu Thalib dan bernegosiasi dengannya.

“Abu Thalib, apakah engkau tidak tahu sesungguhnya Muhammad, keponakanmu itu, telah memunculkan sebuah agama baru yang jauh melenceng dari agama kita. Tak hanya itu saja, dia juga telah mencaci-maki para Tuhan kita. Selama ini, kami masih memaafkannya dan menolerir tindakannya itu lantaran rasa hormat kami kepadamu,” ujar Abu Jahal tatkala ia bertamu ke rumah paman Rasulullah Saw., Abu Thalib bin Abdul Muthallib.
Selanjutnya, Abu Jahal yang pada saat itu juga mengajak serta beberapa orang kawannya dari para pembesar suku Quraisy berkata: “Bujuklah ia agar mau meninggalkan aktivitasnya itu.

Bahkan, kalau ia mau, ia dapat mengikuti agama kita. Akan tetapi, jika ia bersikeras dengan kelakuannya selama ini, maka bisa jadi peperangan akan terjadi di antara kita.”

Pamanda Abu Thalib yang dikenal sebagai pribadi bersahaja dan bersikap tegas itu, diam sejenak. Ia juga dikenal selalu bersikap sportif di dalam bertindak. Hal itulah yang kemudian membuatnya sangat disegani oleh orang-orang Arab pada waktu itu.

“Duduklah dahulu kalian semua,” sambut Abu Thalib sembari mempersilakan Abu Jahal dan kawan-kawannya untuk duduk di tempat yang sudah disediakan.

“Aku akan memanggil keponakanku Muhammad, agar semuanya nanti bisa menjadi lebih jelas,” lanjut Abu Thalib seraya memanggil Rasulullah Saw. yang ketika itu tengah berada di rumahnya.

Tak lama kemudian, keluarlah Rasulullah Saw. dari dalam rumah dan beliau langsung melangkah menuju ke atas balai-balai tempat di mana pamannya sedang duduk. Balai-balai itu adalah khusus untuk tempat duduk Abu Thalib. Letaknya lebih tinggi dari tempat duduk yang lainnya. Sedangkan untuk mencapai ke tempat itu, Rasulullah Saw. berjalan melewati tangga yang terletak persis di atas tempat Abu Jahal dan kawan-kawannya tengah duduk.

Rasulullah Saw. kemudian duduk bersandar di samping pamannya. Melihat tingkah Rasulullah Saw. tersebut, Abu Jahal semakin merasa jengkel.

“Lihatlah tingkahnya itu, Abu Thalib. Dia sama sekali tak lagi menghormatimu. Dia berjalan begitu saja melewati kepala- kepala kami dan duduk seenaknya di atas balai-balaimu dan tepat di sampingmu pula,” ujar Abu Jahal mengungkapkan kekesalannya.

Pamanda Abu Thalib adalah salah seorang paman Rasulullah Saw. yang paling gigih dalam membela dan memanjakan beliau. Dengan lantang ia berkata kepada Abu Jahal dan kawan-kawannya: “Jika apa yang didakwahkan oleh Muhammad itu benar, maka boleh jadi sekarang ia duduk di atas balai-balaiku. Tetapi, besok, mungkin ia akan duduk di atas tengkuk kalian.”

Minta Hujjah

Abu Jahal terdiam. Suasana pun berubah menjadi hening, tegang dan mencekam. Salah seorang dari pembesar Quraisy yang datang bersama Abu Jahal berusaha membuat suasana menjadi cair kembali. Ia mencoba untuk mengalihkan suasana yang tidak mengenakkan bagi mereka itu kepada persoalan awai yang merupakan tujuan dari kedatangan mereka ke rumah Abu Thalib.

“Begini saja, Abu Thalib. Jika apa yang didakwahkan oleh Muhammad itu memang benar adanya, bagaimana jika ia mendatangkan hujjah kepada kami, sebagai bukti dari kebenaran kata-katanya? Dengan demikian, kami pun akan beriman kepadanya dan membenarkan apa-apa yang ia dakwahkan selama ini,” ujar salah seorang dari kawan Abu Jahal.

Pamanda Abu Thalib kemudian mengalihkan pandangannya ke arah keponakannya, Rasulullah Saw. “Hai anak dari saudara lelakiku, apakah yang akan engkau katakan untuk menanggapi kata-kata mereka itu?” tanya pamanda Abu Thalib kepada Rasulullah Saw. yang sangat ia jaga dan dikasihinya itu.

Selanjutnya, Rasulullah Saw. memandang kepada Abu Jahal dan kawan-kawannya seraya berkata: “Mintalah apa saja yang kalian kehendaki sebagai hujjah yang kalian maksudkan tadi.” Abu Jahal berpikir sejenak seraya matanya memandang ke sekeliling tempat itu. Beberapa saat kemudian, matanya terpaku pada sebuah batu besar yang teronggok di sudut halaman rumah pamanda Abu Thalib.

“Baiklah. Cobalah engkau belah batu itu menjadi dua. Kemudian keluarkan dari dalam batu itu sebatang pohon yang besar lagi tinggi,” ujar Abu Jahal mengajukan permintaannya. Para pembesar Quraisy yang ikut hadir saat itu sepakat dengan permintaan Abu Jahal tersebut.

Rasulullah Saw. kemudian mengangkat tangannya seraya berdoa kepada Allah. Beberapa saat berikutnya, turunlah Malaikat Jibril a.s. dan menyampaikan firman Allah sebagai berikut: “Sesungguhnya sejak Aku menciptakan batu besar itu, Aku sudah mengetahui bahwa mereka akan meminta mukjizat tersebut kepadamu. Dan sesungguhnya Aku pun telah menciptakan sebatang pohon di dalamnya.”

Setelah memperoleh petunjuk dari Allah melalui Malaikat Jibril a.s., maka Rasulullah Saw. memberi isyarat kepada batu besar itu. Atas izin Allah, terbelahlah batu itu menjadi dua. Perlahan tapi pasti, dari dalam batu itu keluarlah sebatang pohon yang besar. Tiba-tiba, pohon itu tumbuh dengan cepat sekali. Dalam hitungan detik, pohon itu sudah sangat tinggi hingga tampak seperti hampir mencapai langit.

Melihat keajaiban itu, Abu Jahal dan kawan-kawannya berkomentar: “Alangkah bagusnya yang engkau lakukan itu, Muhammad. Akan tetapi, kalau itu saja rasanya belum cukup untuk dijadikan hujjah. Kami baru akan percaya dan beriman kepadamu, jika pohon itu bisa menyusut dan masuk kembali ke dalam batu tersebut. Kemudian batu itu bisa menutup lagi seperti sedia kala.”

Pada saat itu, Malaikat Jibril a.s. turun lagi menemui Rasulullah Saw. seraya berkata: “Muhammad, sesungguhnya Allah telah berkirim salam kepadamu dan berfirman: Permohonan itu berasal darimu, sedang pelaksanaannya merupakan pemberian dari-Ku.”

Usai mendengar kata-kata yang disampaikan oleh Malaikat Jibril a.s. tersebut, Rasulullah Saw. kemudian berdoa kepada Allah untuk meminta agar pohon itu kembali menciut dan masuk ke dalam batu itu dan selanjutnya batu yang belah itu dapat menyatu kembali seperti semula.

Allah pun langsung mengabulkan permohonan kekasih- Nya. Pohon yang sudah sangat tinggi itu, dalam waktu sekejab langsung menyusut dengan cepat dan menjadi lenyap di dalam batu besar yang terbelah itu. Kemudian, batu yang sudah belah itu pun bergerak menutup lagi dan menjadi seonggok batu besar seperti sebelumnya.

Akan tetapi, jika Allah belum berkenan memberikan hidayah, maka tak satu hujjah pun yang dapat menimbulkan keyakinan di dalam hati seorang manusia. Demikianlah yang terjadi pada Abu Jahal dan kawan-kawannya. Meskipun mereka telah berjanji akan beriman setelah melihat hujjah, mereka tetap saja tak mau beriman. Padahal hujjah yang diberikan oleh Rasulullah Saw. saat itu sudah benar-benar sesuai dengan apa yang mereka minta.

Iklan

Tag:

Komentar Sobat KSIH

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: