PERTOLONGAN PARA NABI


KAMPUS SAMUDRA ILMU HIKMAH

“… aku tidak memerlukan lagi sepotong roti darimu. Sebab, aku telah memperoleh penolong sebanyak dua puluh empat ribu nabi hanya karena sepotong roti itu.”

Al-Junaidi Al-Baghdadi, adalah salah seorang sufi terkenal dari Nehawand, Baghdad. Nama lengkapnya adalah Abu Al-Qasim Al-Junaidi bin Muhammad bin Al-Junaid Al-Khazaz Al-Qawariri Al-Nehawandi. Ia masih merupakan keponakan dari seorang sufi yang juga terkenal pada zamannya, Sari Al-Saqathi (Abu Al-Hasan Sari bin Al-Mughallis Al-Saqathi) dan masih memiliki hubungan persaudaraan dengan sufi terkenal lainnya bernama Al-Muhasibi (Abu Abdullah Al-Harits bin Asad).

Ketika Al-Junaidi wafat, kedudukannya sebagai pemimpin tarekat digantikan oleh seseorang bernama Muhammad Al-Hariri. Lelaki ini sebelumnya pernah tinggal di kota Maltkah selama satu tahun. Ia dikenal sebagai seorang sufi yang rajin berpuasa. Ketaatannya dalam beribadah membuat dirinya tak pernah tidur dengan pulas. Disebutkan pula bahwa Muhammad Al-Hariri tak pernah bersandar pada dinding ataupun berselonjor kaki alias berleha-leha. Ia selalu mengisi siang dan malamnya dengan berpuasa, beribadah dan berdzikir kepada Allah.

Suatu hari, ketika usianya sudah merambah enam puluh tahun, ia duduk di sebuah tempat bernama Al-Quthbiyyah. Di tempat ini, biasanya digunakan sebagai tempat untuk beristira- hat bagi para pejalan ruhani atau orang-orang sufi yang tidak memiliki rumah. Di tempat ini pula bisanya mereka melaksana¬kan shalat berjamaah.

Tatkala Muhammad Al-Hariri duduk di tempat bernama Al- Quthbiyyah itu, seseorang melihat dirinya termangu lama sekali. Orang itu mendekati Muhammad Al-Hariri dan menanyakan apakah ia melihat sesuatu hal yang ajaib hingga lama termangu di tempat itu. Muhammad Al-Hariri mengangguk. Ia berkata bahwa ia teringat dengan sebuah kejadian yang pernah dialaminya di tempat itu.

Pada suatu hari, Muhammad Al-Hariiri mengawali ceritanya, ia duduk di salah satu sudut dari tempat itu. Sudah barang tentu, duduknya seorang sufi bukanlah sekadar duduk. Melainkan duduk sambil berdzikir terus-menerus. Ketika ia sedang duduk itu, tiba-tiba masuklah seorang lelaki yang masih tampak muda usianya. Lelaki muda itu tak memakai sesuatu pun untuk menutup kepalanya. Sehingga tampak jelas rambutnya terurai agak panjang. Wajahnya pucat dan berwarna kekuning-kuningan. Hal itu menunjukkan bahwa ia sangat kekurangan air dan makanan untuk tubuhnya.

Muhammad Al-Hariri memerhatikan lelaki muda itu. Ia sama sekali tidak menggunakan alas kaki. Ia mengambil air wudhu dan melakukan shalat dua rakaat. Usai shalat, ia menundukkan kepalanya dengan sangat dalam ke arah kanan dan bergeming hingga waktu magrib tiba. Kemudian, ia ikut shalat magrib berjamaah bersama para orang sufi lainnya yang ada di tempat itu.

Usai shalat magrib, lelaki itu kembali pada posisinya semula. Seperti tadi, ia menundukkan kepalanya dengan sangat dalam ke arah kanan. Kebetulan, malam itu ada kegiatan rutin yang biasa diadakan oleh khalifah di Baghdad. Yakni mengundang para sufi untuk memberikan nasihat di dalam majelisnya. Alhasil, para sufi itu, termasuk Muhammad Al-Hariri, bermaksud pergi menghadiri undangan khalifah tersebut.

Sepotong Roti

Ketika mereka semua sudah mulai berangkat, Muhammad Al-Hariri menoleh ke arah lelaki muda tadi. Lelaki itu sama sekali bergeming dari tempat dan posisinya. Muhammad Al-Hariri bermaksud mengajaknya turut serta. Oleh karena itu, ia mendekati lelaki muda itu dan bertanya: “Hai si miskin, apakah engkau mau pergi bersama kami untuk memenuhi undangan khalifah?”

“Aku tak memiliki keperluan dengan khalifah. Tapi, jika boleh, aku ingin sepotong roti tebal diberikan kepadaku,” ujar lelaki muda itu tanpa menoleh dan tanpa mengubah posisinya yang tampak sangat khusyuk itu.
Mendengar jawaban lelaki itu, kening Muhammad Al-Hariri langsung berkerut. Pikirnya, lelaki itu bersikap aneh sekali. Lain soal yang ditanya, lain pula jawaban yang diberikan. Bahkan, dia justru meminta diberikan roti. Demikianlah pikiran yang sempat berkecamuk di benak Muhammad Al-Hariri.

Oleh karena lelaki itu tak mau ikut dengan Muhammad Al-Hariri dan kawan-kawannya dari kalangan para sufi, ia pun ditinggalkan di tempat itu. Usai menghadiri acara yang diselengga¬rakan oleh khalifah, Muhammad Al-Hariri dan kawan-kawannya kembali ke tempat mereka di Al-Quthbiyyah. Seperti kebiasaan sebelumnya, ia pun segera duduk di salah satu sudut di tempat itu.

Sekilas, Muhammad Al-Hariri masih melihat lelaki muda itu dalam posisinya yang diam. Seakan-akan ia sudah tertidur. Tak berapa lama, Muhammad Al-Hariri tertidur di dalam duduknya. Ia bermimpi melihat Rasulullah Saw. datang dari kejauhan dengan sinarnya yang terang. Di kanan dan kirinya ada dua orang tua yang wajah dan tubuhnya juga mengeluarkan cahaya yang sangat terang. Sedang di belakang mereka bertiga, ada serombongan orang yang sangat banyak. Wajah mereka juga sangat berkilauan.
Kemudian Muhammad Al-Hariri mendengar ada suara yang memperkenalkan siapa yang datang itu.

“Ini adalah Rasulullah. Orang yang di sebelah kanannya itu adalah Nabi Ibrahim khalilullah. Sedang orang yang di sebelah kirinya adalah Nabi Musa kalimullah. Adapun mereka yang berdiri di belakangnya itu adalah dua puluh empat ribu nabi shalawaatul- laahi ‘alaihim ajma’iin.” Demikian suara itu terdengar jelas oleh Muhammad Al-Hariri.

Muhammad Al-Hariri segera melangkah ke depan untuk menyongsong kehadiran Rasulullah Saw. Setelah tiba di hadapannya, ia bermaksud mencium tangan Rasulullah Saw. Akan tetapi, Rasulullah Saw. justru membuang muka dan tak menoleh ke arah Muhammad Al-Hariri. Sehingga Muhammad Al-Hariri tak jadi mengulurkan tangannya.

Tatkala Rasulullah Saw. menoleh lagi ke arahnya, ia bermaksud bersalaman lagi dengan Rasulullah Saw. Namun, lagi-lagi ia tak bisa bersalaman dengan Rasulullah Saw. Sebab, beliau selalu membuang muka setiap kali Muhammad Al-Hariri mengulurkan tangannya. Kejadian itu berulang hingga tiga
Akhirnya, Muhammad Al-Hariri bertanya kepada Rasulullah Saw.: “Ya Rasulullah, apakah kesalahanku, hingga engkau selalu memalingkan wajahmu yang mulia itu dariku?”

Dalam mimpi itu, Muhammad Al-Hariri kemudian melihat Rasulullah Saw. berpaling ke arahnya dengan wajah yang kemerah- merahan bagaikan intan. Biasanya, wajah merah Nabi Saw. itu menunjukkan bahwa beliau sedang tidak berkenan dengan sesuatu.
“Sesungguhnya seorang fakir miskin dari golongan kami telah meminta roti kepadamu. Akan tetapi, engkau berlaku kikir dan merasa sayang kepada roti itu. Hingga engkau tinggalkan dia dalam keadaan lapar malam ini,” kata Rasulullah Saw. kepada Muhammad Al-Hariri.

Seketika itu juga, Muhammad Al-Hariri tersentak bangun dari tidurnya. Sekujur tubuhnya gemetar karena rasa takut. Ia segera menoleh ke tempat di mana lelaki muda tadi sedang duduk. Namun, lelaki itu sudah tak ada lagi di sana. Muhammad Al- Hariri segera berdiri dan mencari-cari keberadaannya. Sekilas ia melihat lelaki muda itu sudah beranjak akan pergi dari tempat itu.
Segera Muhammad Al-Hariri memanggilnya, “Anak muda, demi Allah yang telah menciptakanmu, bersabarlah sebentar, aku akan mengambilkan roti untukmu,” ujar Muhammad Al- Hariiri.

“Syekh, aku tidak memerlukan lagi sepotong roti darimu. Sebab, aku telah memperoleh penolong sebanyak dua puluh empat ribu nabi hanya karena sepotong roti itu,” ujar lelaki muda itu sambil tersenyum dan kemudian segera berlalu dari tempat itu. Sejak saat itu, Muhammad Al-Hariri sering termangu jika berada
di tempat itu. Sebab, ia terkenang akan kejadian itu.

Belajar dari kisah tersebut, boleh jadi suatu ketika kita pernah bertemu dengan mereka yang dijadikan kekasih oleh Allah Swt. Namun, ia tertutup oleh selubung kefakiran atau kemiskinannya. Kelusuhannya, membuat orang-orang acap lcali tak mengetahui siapa dirinya. Boleh jadi juga, kita tak mengenal siapa nama mereka. Tetapi, Allah Azza wa Jalla dan Rasulullah Saw. serta para nabi dan rasul lainnya sangat mengenal mereka. Bahkan menjadikannya sebagai bagian dari golongan mereka.

Oleh karena itu, berhati-hatilah bersikap terhadap siapa saja. Apalagi kepada mereka yang biasa disepelekan atau dipinggir¬kan. Termasuk kepada orang-orang yang tampaknya tak memiliki pakaian ketenaran, kemewahan harta dan penampilan yang mentereng. Sebab, siapa yang bisa mengira jika ternyata dia adalah orang yang telah diangkat sebagai kekasih oleh Allah? Wallahu a’lam bish-shawab.

Iklan

Tag:

Komentar Sobat KSIH

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: