AGAR DICINTAI MANUSIA


Seseorang akan disenangi, jika ia tidak mengharap apa yang dimiliki orang lain. Sebab, sifat dasar manusia adalah bakhil (kikir) terhadap hartanya, tidak ingin hartanya hilang atau pun berkurang dari genggamannya, serta tidak ingin tersaingi orang lain. Sehingga rasa benci pun akan muncul dengan sendirinya bila orang lain hendak mengambil harta itu dari rangkulannya.
Sebuah ungkapan berbunyi :

الله يغضب ان تركت سؤاله …………….. وبني آدم حين يسأل يغضب
“Allah akan marah jika engkau tidak meminta padaNYa…dan Anak Adam akan marah jika dimintai …”
Kecuali orang-orang yang telah dipilih oleh Allah Azza wa Jall, sehingga sifat kikir itu pun hilang darinya.

ومن يوق شح نفسه فأولئك هم المفلحون (9)….
“…Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyar :9)

Ironinya, sebagian orang terkadang merasa bahagia dan senang jika orang lain -dalam hal ini- berada di bawahnya, lebih kerdil dunianya darinya, yang tiada lain akan menumbuh suburkan sifat jelek; congkak, sombong dan merendahkan orang lain hingga mengakar di dalam hati. Dan memang beginilah yang diinginkan dunia itu!.
Karena itu, seseorang akan dicintai dan disenangi, jika ia zuhud dan tidak menghaharap apa yang dimiliki orang lain. Sebab, orang akan merasa hartanya senantiasa aman darinya. Inilah kunci untuk membuka hati manusia; jangan pernah melirik hartanya dengan lirikan penuh harap.

Sifat ‘zuhud’ ini, selain berbuah cinta manusia, ia juga adalah kemuliaan hidup di dunia. Dalam sebuah hadits disebutkan :

شرف المؤمن قيامه بالليل، وعزه استغناؤه عن الناس
“Keagungan seorang mu’min dengan qiyamullail-nya, dan kemuliaannya dengan tidak berharap kepada manusia.”
Berkata al-Hasan rahimahullah: “Engkau senantiasa mulia di hadapan manusia, dan manusia memuliakanmu selama engkau tidak mengiming-imingkan apa yang ada di tangan mereka, sebaliknya, mereka akan merendahkanmu, membencimu dan tidak senang berbicara denganmu, jika engkau selalu berharap darinya.”
Seorang Arab dari pedalaman berkata kepada penduduk Bashrah “siapakah pemimpin kampung ini?”, mereka menjawab “al-Hasan”, Ia berkata “dengan apa ia memimpin kalian?”, mereka menjawab “manusia butuh kepada ilmunya, dan Ia sendiri tidak menginginkan dunia mereka.”
Maka dari itu, para Sahabat begitu menjaga ke-iffah-an mereka sebagai satu warna sifat zuhud itu. Mereka lebih memilih hidup miskin daripada bermuka tebal, sampai-sampai orang lain mengira mereka adalah orang kaya lantaran tidak pernah terlihat mengharap dan meminta kepada orang lain. Karena kemuliaan sifat mereka ini pun, Allah telah menetapkannya dalam al-Qur’an melalui firmanNya :

للفقراء الذين أحصروا في سبيل الله لا يستطيعون ضربا في الأرض يحسبهم الجاهل أغنياء من التعفف تعرفهم بسيماهم لا يسألون الناس إلحافا وما تنفقوا من خير فإن الله به عليم (273)
“(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan (di jalan Allah), maka sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.”QS. al-Baqarah (2) : 273

Jika meminta kepada orang lain disaat darurat saja mereka begitu hindari, tentu lebih mustahil jika mereka mancarinya dengan jalan yang haram. Sungguh para wanita generasi mulia Salafush-Shalih, apabila suaminya hendak berangkat dari rumahnya untuk mencari nafkah, ia berkata kepadanya, “Jauhkanlah -wahai suamiku- mencari nafkah yang haram. Sesungguhnya kami mampu bersabar menahan lapar, akan tetapi kami tidak mampu bersabar menahan panasnya api neraka!”
Bahkan ‘tak jarang di antara mereka yang menolak pemberian yang telah menjadi haknya karena merasa telah cukup dengan apa yang ia miliki, padahal mereka bukanlah orang kaya. Salahsatu di antara mereka adalah Hakim bin Huzam radiallahu ‘anhu, yang pernah menolak pembagian fae’ (harta yang diperoleh tanpa peperangan) yang telah menjadi haknya, yang dibagikan oleh Abu Bakar dan Umar radiallahu ‘anhuma. Maka Umar berkata: “Wahai sekalian kaum muslimin, aku bersaksi kepada kalian atas Hakim, bahwa aku telah menawarkan padanya haknya yang telah Allah bagikan untuknya dari harta ini kemudian ia menolaknya.” Beliau pun;Hakim bin Hizam radiallahu ‘anhu tidak pernah menerima pemberian orang hingga beliau menghadap kepada Rabbnya Azza wa Jall.[3]

Namun perlu diketahui, bahwa mancari ridha dan cinta manusia bukanlah tujuan utama hidup ini. Betapa banyak orang-orang shaleh, para ulama dan wali-wali Allah yang dibenci oleh manusia lantaran ia mengutamakan cinta Allah Azza wa Jall. Dan sangat keliru sebahagian orang dalam masalah ini, yang sebenarnya ia mengutamakan cinta manusia dari cinta Allah Azza wa Jall. Seseorang berkata “aku memang jarang shalat…, tapi aku tidak pernah bermasalah dengan orang lain, daripada si fulan yang dikenal ‘alim’ (taat) tetapi selalu punya masalah dengan orang lain”. Ia begitu menjaga hubungannya dengan sesama manusia tetapi ia mengabaikan hubungannya dengan Penciptanya.
Orang shaleh mungkin saja dibenci oleh sebahagian orang, namun ia pasti dicintai oleh sesama orang shaleh, sebab ini adalah janji Allah Azza wa Jall yang pasti terjadi. Seorang ‘Ulama Ahli tafsir berkata ketika mengomentari firman Allah :

إن الذين آمنوا وعملوا الصالحات سيجعل لهم الرحمن ودا (96)
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak Allah Yang Maha Pemurah akan menanamkan dalam (hati) mereka rasa kasih sayang.”QS. Maryam (19) : 96
“Allah Ta’ala mengabarkan bahwa Ia akan menanamkan untuk hamba-hambaNya yang beriman dan beramal shaleh[4] kecintaan dan kasih sayang di dalam hati hamba-hambaNya yang shaleh. Ini adalah perkara yang pasti, sebab (hal ini) telah tersebutkan dalam hadits-hadits yang shahih dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”[5]Kemudian beliau menukil sebuah riwayat dari Imam Ahmad rahimahullahu ‘Ta’ala, dari sahabat Abu Hurairah radiallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, bahwa beliau berkata :

إن الله إذا أحب عبدا دعا جبريل فقال : يا جبريل إني أحب فلانا فأحبه قال فيحبه جبريل قال : ثم ينادي في أهل السماء : إن الله يحب فلانا فأحبوه قال : فيحبه أهل السماء ثم يوضع له القبول في الأرض….
“Sesungguhnya jika Allah mencintai seorang hamba, Ia memanggil Jibril, Ia berkata: ‘Wahai Jibril, sesungguhnya Aku mencintai fulan maka cintailah dia!, beliau (Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam) berkata ‘maka Jibril pun mencintainya’.(Nabi) berkata ‘kemudian (Jibril) menyeru kepada penghuni langit ‘Sesungguhnya Allah mencintai fulan maka cintailah dia’. (Nabi) berkata: ‘maka penghuni langit pun mencintainya’. Kemuadian Allah menetapkan bagi dia untuk diterima (dicintai) di muka bumi…’.”

Inilah dua kunci untuk meraih cinta Allah Azza wa Jall dan cinta manusia. Cinta pertama adalah wajib, sebab cinta yang kedua adalah konsekwensi cinta pertama jika ia telah tergapai. Cinta yang mau tidak mau harus dimiliki setiap jiwa yang akan menghadap kepadaNya jika ingin merasakan kebahagiaan di akhirat kelak.

https://kampussamudrailmuhikmah.wordpress.com/

Tag:

Satu Tanggapan to “AGAR DICINTAI MANUSIA”

  1. agateszjovi Says:

    Huhm.. Dunia memank memilukan & Akhirat tak mudah digapai. ^^

Komentar Sobat KSIH

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: