Ruqyah dengan ayat-ayat qur’ani


“dan kami turunkan dari Al-Qur’an suatu yang jadi penawar dan rahmat bagi orang-orang yang beriman dan Al-Qur’an itu tidaklah menambah kepada orang-orang yg zalim selain kerugian.”(Qs. Al-Isra’:82)

Al-Qur’an merupakan obat sempurna yang sempurna untuk semua penyakit lahir maupun penyakit batin, dunia dan akhirat. Namun tidak semua orang dianugrahi keahlian dan kemampuan melakukan pengobatan dengan Al-Qur’an. Apabila pengobatan dilakukan secara benar, tepat, penuh keyakinan dan keimanan serta hati yang mantap dan memenuhi syarat-syaratnya,

maka tidak ada satu penyakit pun yang mampu melawannya. “barangsiapa yang tidak sembuh dengan Al-Qur’an, maka Allah tidak akan memberikan kesembuhan baginya. Dan barangsiapa yang tidak cukup dengan Al-Qur’an, maka berarti Allah tidak memberikan kecukupan baginya.” Demikian kata Ibnul Qoyyim dalam kitabnya Zaadul Ma’aad, juz 3, hal 178-179.

Dan banyak dalil yang membuktikan bahwa Al-Qur’an bias digunakan sebagai obat salah satunya sabda Rasulullah saw “hendaklah kamu berobat dengan dua obat, yaitu madu dan Al-Qur’an.”(HR.ibnu majah dan lainnya). Tentunya hal yang demikian ini harus disertai keyakinan, keikhlasan, dan bertaubat dari segala dosa dan kesalahan agar rahmat itu melingkupi kita.

Dalam kitab Al-Fath, Al-Hafizh mengatakan, “saya memberi jimat kepada si Fulan” berarti “saya melindunginya” dengan demikian, meminta azimat sama artinya dengan meminta perlindungan.

Kata Al-Mu’awwidzaat dalam kalimat “Bi Al-Qur’an wa Al-Mu’awwidzaat” maksutnya surat Al-Falaq, An-Naas, dan Al-ikhlas.
Ada pula yang mengatakan, maksudnya adalah surah Al-Falaq, An-Naas, dan semua surah dalam Al-Qur’an yang mengandung arti meminta perlindungan kepada Allah SWT.
Umpanya firma Allah,
“dan katakanlah, “ya tuhanku, Aku berlindung kepada engkau dari bisikan-bisikan setan.”(Al-Mukminun :97)
Dan masih banyak ayat lain yang mengandung permintaan perlindungan kepada Allah SWT. Namun pendapat pertamalah yang membatasi pada surah Al-falaq, An-naas, dan Al-ikhlas saja yang lebih bias diterima.
At-Tarmidzi (dan juga An-Nasa’i) meriwayatkan sebuah hadist hasan dari Abu Sa’id. Dia berkata “Rasulullah saw. Pernah meminta perlindungan kepada Allah SWT dari gangguan jin dan manusia, hingga kemudian turun surat Al-Falaq dan An-naas. Ketika dua surah ini turun, beliau menggunakan keduanya dan meninggalkan yang lainnya (dalam pengobatan dari gangguan jin dan sihir).”(HR.Tarmidzi:2058)
Hadist diatas tidak menunjukan larangan meminta perlindungan kepada Allah dengan selain kedua surah tersebut, tetapi hanya menunjukan prioritas saja. Apa lagi ada riwayat yang menyebutkan penggunaan selain kedua surah tersebut sebagai pelindung diri. Prioritas utama yang terdapat dalam kedua surah tersebut adalah karena kandungan makna pada keduanya meliputi semua permintaan perlindungan dari keburukan segala sesuatu yang tidak diinginkan, baik secara keseluruhan maupun personal.

Para ulama bersepakat bahwa boleh menggunakan zimat dengan memenuhi tiga syarat utama, yaitu :
1. hendaknya dengan kalimat Allah SWT atau sifat-sifatnya dan Asmaul Husna.
2. hendaknya dengan bahasa arab atau bahasa lain yang dapat diketahui maknanya.
3. hendaknya orang itu meyakini bahwa zimat tersebut tidak dapat memberi perlindungan dengan sendirinya, tetapi karena kekuasaan dan izin Allah SWT semata.

Para ulama berbeda pendapat, apakah tiga syarat diatas merupakan syarat wajib?
Menurut pendapat yang paling kuat, ketiga syarat tersebut wajib.
Pendapat ini berdasarkan hadist yang disebutkan dalam kitab shahih Muslim dari Auf bin Malik. Dia berkata “pada masa jahiliyah, kami banyak membuat azimat, kemudian kami bertanya kepada Rasulullah SAW, wahai Rasulullah, bagaimana pendapat anda tentang hal itu?” Beliau menjawab, “jauhkan zimat kalian dariku. Sebenarnya tidak mengapa memakai zimat selama tidak mengandung kemusyrikan.”(HR.Muslim 2200/64).

Juga hadist dari Jabir, dia mengatakan, “Rasulullah saw. Telah melarang pemakaian azimat. Kemudian keluarga Amr bin Hazm mengadu kepada beliau dan mereka berkata, “wahai Rasulullah, sesungguhnya kami mempunyai zimat. Kami mempergunakannya untuk melindungi diri dari sengatan kalajengking.”perawi mengatakan, “lalu mereka memperlihatkan zimat itu kepada beliau. Kemudian beliau bersabda, “Aku tidak melarang zimat kalian ini. Barangsiapa yang dapat memberikan manfaat kepada saudaranya, maka berikanlah.”(HR.Muslim 199/6).
Dengan keumuman kalimat hadist ini, banyak orang berpendapat bahwa segala jenis azimat yang dapat memberikan manfaat walaupun zimat tersebut tidak bisa dimengerti maksudnya hukumnya boleh. Akan tetapi, kita bisa menepis pendapat ini dengan hadist dari Auf bin Malik diatas yang menyebutkan bahwa zimat yang dapat menyebabkan seseorang musyrik, dilarang pemakainya. Dan karena zimat yang tidak dapat dipahami maksudnya tidak bisa menjamin seseorang untuk tidak melakukan kemusyrikan, pemakain zimat semacam ini dilarang [pelarangan] ini sebagai bentuk kehati-hatian. Dan syarat yang terakhir harus terpenuhi, yaitu pemakainya harus mempunyai keyakinan bahwa hanya Allah-lah yang berkuasa dan memberi kekuatan pada azimat itu.
Ada yang mengatakan bahwa pemakaian zimat tidak diperkenankan, kecuali untuk melindungi diri dari mata (gangguan) setan dan sengatan binatang berbisa. Pendapat ini berdasarkan pada hadist Imran bin husain. Dia berkata, “tidak diperkenankan memakai zimat, kecuali untuk melindungi diri dari gangguan setan dan demam.”(HR. Al-Bukhari : 5378).
Pemakaian dalil seperti hadist yang diatas dapat dibantah, karena maksud kata Hashr (pengecualian dari larangan untuk penekanan makna) dalam hadist tersebut menunjukan bahwa kedua gangguan diatas adalah asal mula atau kebiasaan pengunaan azimat. Jadi, bias saja kita menggunakan zimat ini untuk mengobati orang gila atau kemasukan jin dan sebagainya. Ini karena semuanya sama-sama terjadi akibat gangguan setan, baik dari bangsa jin maupun manusia. Begitu juga dengan bahan-bahan beracun yang mengenai anggota tubuh manusia, seperti bisul bernanah dan lain-lain.
Ada lagi hadist yang sama dengan hadist riwayat Imran di atas, yaitu sebuah hadist dari Anas r.a. yang diriwayatkan Abu Dawud dengan tambahan, “atau menahan pendarahan.”(HR.Abu Dawud: 3889).
Dalam kitab shahih Muslim, dari Yusuf bin Abdillah bin Al-Harist dari Anas, dia mengatakan, “Rasulullah saw. Telah memperbolehkan pemakaian zimat untuk melindungi diri dari gangguan setan, demam dan An-Namlah (bisul bernanah).”(HR.Musilim 2196/58)
Dalam hadist lain disebutkan, “dan telinga”
Dari Abu Dawud dari Asy-Syifa’binti Abdillah, dia mengatakan,”bahwasanya Rasulullah saw. Berkata kepadanya,”tidakkah kamu tahu-maksudnya Hafshah-bahwa ini adalah zimat untuk An-Namlah?”(HR.Abu Dawud 3887)
An-Namlah artinya adalah nanah yang keluar dari lambung atau bagian tubuh lainnya.
Ada pula yang mengatakan bahwa maksud Al-Hashr dalam hadist di atas adalah untuk yang lebih utama. Maksudnya : mengutamakan pemakaian zimat tersebut untuk gangguan-gangguan diatas. Ini seperti halnya jika kamu mengatakan,”tidak ada pedang (yang lebih baik) kecuali Dzulfiqar.”(disebutkan Al-Hafidz dalam Al-Fath juz 10, kitab Ath-thib, Bab Ar-Ruqa bi Al-Qur’an wa Al-Mu’awwidzat.)
Ada yang berpendapat bahwa adanya larangan pemakaian zimat itu adalah sebelum terjadinya bencana, dan diizinkan setelah bencana itu terjadi. Hal ini dikemukakan oleh Ibnu Abdil Barri dan Al-Bahaqi serta yang lain.
Dalam pernyataan di atas, ada beberapa pertimbangan atau komentar: pernyataan di atas sepertinya kesimpulan dari sebuah hadist yang menyandingkan antara jampi-jampi(ruqyah) dengan azimat.
Dari Abu Dawud dan Ibnu Majah dari keponakan Zainab, istri Abdullah bin Mas’ud dari Zainab dari Ibnu Mas’ud, dia mengatakan, “sesungguhnya jampi-jampi, zimat, At-Tiwalah(ilmu pellet) adalah musyrik.”(HR.Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya 6090)
Hadist di atas adalah Marfu’dan dianggap shahih oleh Al-Hakim. At-Tamaim adalah bentuk jamak dari kata Tamimah yang berarti hiasan atau kalung yang digantungkan dikepala. Masyarakat jahiliyah berkeyakinan bahwa zimat-zimat itu dapat menolak bencana pada diri pemakainya.
At-Tiwalah adalah sesuatu yang dipergunakan perempuan untuk memikat hati suaminya atau mencari cinta. Kesemua itu bagian dari sihir. Perbuatan semacam ini termasuk musyrik karena mereka telah meminta kepada selain Allah SWT untuk mendapatkan rezeki dan keberuntungan atau menolak bahaya. Lain halnya jika mereka mempergunakan Asmaul Husna dan kalamullah, karena banyak hadist yang melegitimasi penggunaanya untuk hal-hal tersebut.
Diantaranya ada sebuah hadist dari Sayyidah Aisyah r.a. beliau mengatakan, “Bahwasananya Rasulullah saw. Ketika mengalami sakit yang menyebabkan beliau meninggal dunia, selalu meniupkan bacaan surah-surah Al-Mu’awwidzat pada diri beliau. Ketika sakitnya bertambah berat, saya meniupkannya (ketangannya) dengan membaca Al-Mu’awwidzat. Kemudian saya mengusapkan tangan tersebut kebagian tubuh yang sakit.”(HR.Al-Bukhari 5403)
Dari Az-Zuhri, “Bagaimana beliau meniupkannya?” Dia menjawab,”Beliau meniupkannya pada kedua telapak tangannya, kemudian mengusap wajahnya dengan kedua tangan tersebut.”
Juga sebuah hadist dari Ibnu Abbas, dia mengatakan,”Bahwasanya Rasulullah saw. Memberi perlindungan kepada Al-Hasan dan Al-Husain dengan kalimat-kalimat Al-Qur’an dari gangguan setan-setan dan binatang berbisa.” (HR. Al-Bukhari 3191)
Selain itu, terdapat pula sebuah hadist Marfu’ dari khaulah binti Hukaim. Dia mengatakan, “barangsiapa masuk rumah lalu berdoa, “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari gangguan semua mahluk,” maka tidak ada satu pun yang akan mencelakainya hingga ia keluar dari rumah itu.”(HR. Muslim 2708/54)
Dari Abu Dawud dan An-Nasa’I dengan sanad yang shahih dari suhail bin Abi Shaleh dari ayahnya dari seorang lelaki Aslam, dia mengatakan, “seorang lelaki menghadap Rasulullah saw. Ia mengadukan sakaitnya kepada beliau, “kemarin malam aku terkena sengatan kalajengking, hingga aku tidak dapat tidur.” Kemudian Rasulullah saw. Berkata kepadanya, “jika pada waktu sore kamu mau membaca, “Aku berlindung dengan kalimat-kalimat Allah yang sempurna dari kejahatan semua mahluk,” maka tidak ada sesuatu apapun yang akan mencelakaimu.”
Hadist yang searti dengan ini sangatlah banyak. Kemudian muncul permasalahan lain. Ada yang mengetakan bahwa zimat atau matra-mantra itu sifatnnya lebih spesifik daripada sekedar meminta perlindungan. Jika tidak begitu, pemakaian zimat atau mantra ini sedah menjadi rahasia umum yang tidak diperdebatkan.
Para ulama bersepakat bahwa kita dianjurkan untuk meminta pertolongan dan perlindungan kepada Allah dalam setiap perkara yang telah dan akan menimpa kita.
Ibnu At-tin mengatakan, “zimat dengan menggunakan Al-Mu’awwidzat atau Asmaul Husna dan semacamnya merupakan pengobatan rohani. Jika ini dilakukan oleh orang-orang yang shaleh, dan dengan izin Allah SWT. Maka si penderita akan sembuh. Ketika pengobatan semacam ini sulit untuk dilakukan, banyak orang yang meminta pengobatan kepada Dokter-dokter umum. Mereka juga meminta pengobatan kepada zimat-zimat yang terlarang, yang dikerjakan oleh paranormal, dan lain-lain. Biasanya paranormal itu mengaku dapat menundukan jin.
Untuk tujuan itu , mereka melakukan perbuatan yang tidak bisa dipertanggung jawabkan; mereka mencampuradukan antara perbuatan atau perkara yang benar dengan yang bathil. Mereka menggabungkan kalimat-kaliamt yang biasanya untuk berzikir dan juga Asmaul Husna dengan mantra-mantra untuk mengundang setan. Kepada ini semua, mereka meminta pertolongan dan perlindungan dari setan-setan itu.
Kita bisa mengambil gambaran; ular yang biasanya bermusuhan dengan manusia akan berteman baik dengan setan-setan itu karena mereka adalah musuh dari anak cucu adam. Ketika seseorang berkeinginan mengusir ular dengan mengunakan nama-nama setan, maka ular itu akan memenuhi permintaanya dengan keluar dari tempatnya. Begitu juga denggan binatang berbisa, jika dibacakan nama-nama setan itu, maka racunnya akan keluar dari tubuh manusia.
Oleh karena itu, kita diperingatkan untuk tidak mengunakan mantra atau menulis azimat, kecuali dengan kalimat Allah, Asmaul Husna, dan doa-doa nabawi. Agar kita terbebas dari perbuatan syirik. Para ulama mengatakan makruh hukumnya menggunakan apa-apa selain kitabullah sebagai mantra atau azimat.
Al-Qurthubi mengatakan, “mantra ada tiga macam:
1. mantra yang dipergunakan pada masa jahiliyah yang tidak bias diketahui maksudnya. Mantra semacam ini harus ditinggalkan agar kita tidak jatuh pada kemusyrikan.
2. mantra yang menggunakan kalimat Allah SWT dan Asmaul Husna. Mantra semacam ini boleh dipergunakan, bahkan disunnahkan jika mantranya adalah doa-doa Ma’tsur (doa-doa yang diajarkan Rasulullah saw.)
3. mantra yang menggunakan apa-apa selain Asmaul Husna. Umpanya, nama raja atau prang shaleh atau juga orang dan benda yang dikeramatkan, seperti Al-Arsy. Mantra semacam ini tidak wajib ditinggalkan dan tidak pula dianjurkan. Ini karena mantra semacam ini tidak menjamin seseorang mau berlindung kepada Allah SWT, atau-pun meminta berkah dengan menyebut Asmaul Husna. Namun, jika mantra itu mengandung penghormatan yang berlebihan kepada yang memberikan berkah, maka kita diperintahkan untuk meninggalkannya, sebagaimana bersumpah dengan nama selain Allah.”

Ar-Rabi mengatakan,”saya pernah bertanya kepada Imam syafi’I tentang mantra, dia menjawab,”Boleh-boleh saja bila kita menggunakan kitabullah dan kalimat yang biasa digunakan untuk berzikir kepada Allah SWT.”
Dari Ibnu Wahb dari Malik, dia mengatakan bahwa makruh hukumnya menggunakan potongan besi, garam, simpul benang, dan sesuatu yang ditandai dengan cincin Nabi Sulaiman as. Sebagai zimat. Selanjutnya Imam Malik mengatakan,”Pada zaman dahulu, hal itu bukanlah sesuatu yang penting bagi mereka.”
Ibnu Abdussalam pernah ditanya tentang huruf-huruf (dalam Al-Qur’an) yang terputus-putus. Dia melarang pengunaannya selama tidak diketahui maksudnya, agar kita tidak jatuh kedalam kekufuran. (kitab As-sihr, syeikh Mutawalli Sya’rawi).

Demikianlah pembahasan para ulama tentang ruqyah/mantra dan azimat sebagai sarana pengobatan dan perlindungan dari sesuatu yang tidak disenangi. Masalah ini saya kembalikan lagi kepada para pembanca, karena masalah ini seperti bola salju yang tiada habis-habisnya, sehingga banyak orang-orang yang mengikuti hawa nafsunya yang bertindak berlebihan dalam masalah ini. Semoga kita semua mendapat perindungan dari Allah SWT dari kemusyrikan dan sikap berlebih-lebihan. Amiin.

4 Tanggapan to “Ruqyah dengan ayat-ayat qur’ani”

  1. budi_ponorogo Says:

    1

  2. budi_ponorogo Says:

    2

  3. budi_ponorogo Says:

    3 yang lain monggo…..

  4. Hasan Fuad Says:

    4

Komentar Sobat KSIH

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


%d blogger menyukai ini: