Arsip untuk ‘Meningkatkan Kualitas Iman : Tiga Pesan Syeh Abdul Qodir Jailani r.a.’ Kategori

Meningkatkan Kualitas Iman : Tiga Pesan Syeh Abdul Qodir Jailani r.a.

27 Juli 2011

Topik yang diangkat adalah mengenai pesan yang disampaikan syeh Abdul Qodir Jailani r.a. kepada murid-muridnya. Pesan itu sangat singkat tetapi kaya akan makna bila kita renungi dalam aplikasi keimanan dalam kehidupan kita.

Beliau menyampaikan tiga hal yang kurang lebih kalau diterjemahkan artinya sebagai berikut (mohon maaf arabnya saya lupa):

  1. Jadilah kalian seekor binatang buas terhadap segala perintah Allah SWT dan RosulNya.
  2. Jadilah kalian seperti orang yang sakit terhadap larangan-larangan Allah SWT dan RosulNya
  3. Jadilah kalian seperti orang yang mati terhadap taqdir Allah SWT.

Pertama, mari kita meraba diri kita pribadi, apakah karakter tersebut telah ada dalam diri kita. Untuk kriteria pertama, apakah kita  sudah seperti binatang buas yang sangat lapar terhadap perintah Allah dan Rasul. Rasa lapar itu tentu saja membuat kita menjadikan ibadah sebagai makanan yang akan mengenyangkan rohani kita. Bila ada panggilan Allah berupa adzan, bagaimana sikap kita? “Ah, masih jam 12 siang, entar nunggu jam 2 aja.” atau mungkin menundah sholat isya karena jam 12 malam pun masih bisa sholat isya. Itu mungkin salah satu parameter yang mencerminkan sikap kita terhadap perintah Allah dan Rosul.

Kedua, apakah sikap kita sudah seperti orang sakit bila dihadapkan pada larangan Allah dan Rosul? Kita mungkin sering terbalik mengaplikasikan dihari-hari kita. Kalau ada larangan, biasanya sikap kita tambah seperti binatang buas, tapi kalau dalam hal ibadah kita tambah seperti orang sakit. Manusia memang sok pintar. Ambil contoh, kita dilarang minum alcohol, karena Dzat yang membuat kita sudah mengetahui apa yang terbaik bagi makhluk, banyak kejelekan yang ditimbulkan, tapi realita yang ada menunjukkan bahwa sebagian manusia seolah merasa pintar dengan tetap meminumnya dengan alasan yang mereka buat sendiri.

Atau mungkin masalah ghibah, membongkar kejelekan orang lain. Untuk apa? Itu bagaikan memakan daging saudara kita yang sudah busuk. Apakah dengan itu kita akan tampak lebih bagus yang kita bicarakan. Oleh jadi kesalahan kita, dosa kita lebih banyak dari pada orang yang kita bicarakan. Terus kenapa membicarakan kejelekan orang lain itu seolah MAKANAN YANG SANGAT LEZAT, kita sering merasa puas melakukannya. Apa yang kita dapat? Apa kita senang kalau aib kita dibongkar orang lain. Jawabannya pasti TIDAK. Trus kenapa kita melakukan itu ? Kalau tidak salah AA Gym menyampaikan bahwa menyampaikan bahwa bila kita membicarakan kesalahan orang, maka dosa kesalahan itu akan langsung berpindah pada diri kita. Na3udzubiLLAH meen Dzalik. Semoga Allah menjauhkan kita dari perilaku yang demikian itu. Penulis juga kadang merasa heran, kenapa ghibah itu sangat menyenangkan ? Padahal jelas-jelas sudah buruk bagi kita.

Ketiga, kita bisa melihat orang mati. Apapun yang dilakukan padanya, dia akan selalu diam dan menerima. Bila kita siram dia dengan air dingin, maka dia akan diam. Atau mungkin kita siram dengan air panas, maka diapun akan tetap diam tanpa melakukan perlawanan apapun. Kemanapun kita membawanya, dia akan selalu menurut kehendak kita. Begitulah mungkin gambaran seorang muslim terhadap takdir Allah SWT. Dalam kehidupan ini, kita sering mendapatkan takdir yang menyenangkan maupun yang tidak menyenangkan. Satu saat kita sangat bahagia dengan nikmatNYA, satu saat yang lain, kita akan sangat sedih atau menderita karena musibah yang menimpa kita. Tapi itulah kehendakNYA. Itulah yang harus kita syukuri,  baik itu nikmat berupa kebahagiaan ataupun kesusahan semua itu adalah ujian. Banyak fakta yang membuktikan bahwa manusia sering lulus ketika di uji dengan kesusahan, tapi mereka malah lalai ketika di uji dengan kesenangan hidup. Na3udzubillah.

Allah sudah berfirman bahwa semua ujian dan cobaan itu telah disesuaikan dengan kemampuan kita untuk mengatasinya. Sehingga kita yakin bahwa apapun takdir itu, susah atau senang, kita suka atau tidak kita suka, itu merupakan hal yang paling baik bagi kita menurut PENCIPTA KITA. Apakah kita punya landasan yang menyangkal hal yang menurut pencipta kita itu baik? Allah juga mengingatkan bahwa kadang suatu hal itu kita benci, padahal sesuatu itu sangat baik bagi kita, atau sesuatu itu kita senangi, tapi nyatanya malah akan membuat kesengsaraan bagi kita.

Jadi kita hilangkan segala keraguan dan selalu meyakini bahwa setelah kita berusaha maksimal, apapun hasil yang kita dapatkan, suka atau tidak, itulah yang menurut dzat yang maha Tahu paling bagus bagi diri kita. Demikian tulisan ini, semoga menambah keimanan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 727 pengikut lainnya.