Archive for the ‘AGAR DISAYANG ALLAH SWT’ Category

AGAR DISAYANG ALLAH SWT

29 September 2012

Dicintai Allah Azza wa Jall dan disenangi manusia adalah cita-cita setiap muslim di muka bumi ini. Mereka pun berlomba-lomba melalui berbagai jalur ketaatan, dan segala upaya mereka tempuh untuk menggapai cita-cita tersebut. Namun terdapat jalan yang merupakan jalur utama untuk meraih cita-cita itu terkadang terabaikan dan jarang tertapaki oleh mereka. Padahal Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menuturkan kuncinya dengan kalimat singkat; zuhud terhadap dunia adalah kunci meraih cinta Allah, dan zuhud terhadap apa yang ada di tangan manusia adalah kunci meraih cinta manusia.[1]

Zuhud, dengan meninggalkan segala sesuatu yang menyibukkan diri, dari hal-hal yang tidak bermanfaat untuk akhirat.
Adapun berusaha mencari kebutuhan hidup agar tidak bergantung kepada orang lain adalah perkara yang wajib. Mencari apa yang bermanfaat untuk diri dan orang lain adalah baik. Akan tetapi, tidak menjadi kesibukan utama yang hanya melalaikan dan memalingkan diri dari wajah Allah Azza wa Jall, lantaran dunia bukanlah tujuan utama manusia; dunia hanyalah lahan berinvestasi yang hasilnya akan dituai di akhirat kelak.

Jika aqidah ini telah tertanam di dalam hati, maka seseorang akan selalu merasa kaya dengan karunia Allah Azza wa Jall meski terlihat sedikit. Sebab, ia semata memposisikan dunia itu di tangannya bukan di hatinya, banyak atau pun sedikit. Ada pun jika dunia itu telah bercokol di hati, maka harta yang banyak ‘tak akan pernah memuaskan. Batinnya akan tersiksa jika menyaksikan hidup orang lain lebih mewah dan lebih berharta darinya. Ia akan berambisi, berusaha sekuat tenaga untuk selalu menambah perbendaharaan hartanya, yang pada akhirnya, ia pun disibukkan dengan urusan menumpuk harta dari pada kepentingan akhiratnya. Itulah tulah jika dunia telah bersarang di hati.

Berkata Syekh al-Islam rahimahullah: “Zuhud adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat untuk akhirat. Barang siapa yang telah berbunga akhirat di hatinya, ia tidak akan berbuat kecuali yang bermanfaat untuk akhiratnya, meninggalkan yang tidak bernilai bagi akhiratnya. Dengan inilah orang yang zuhud menjadi kaya. Ia hanya mengerjakan yang ‘mubah’ (yang hukumnya boleh) jika hal itu bermanfaat untuk akhiratnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “rawwihuu ‘anil qulubi saatan ba’da saah”[2] (segarkanlah hati sesaat demi sesaat). Barang siapa yang ber-istifadah dari yang mubah agar kuat mengerjakan yang haq, maka hal ini tidak keluar dari batas zuhud. Ini berarti, bahwa ia hanya mementingkan akhiratnya, sehingga ia pun tidak tersengat pujian atau pun celaan manusia.”

Zuhud terhadap dunia adalah perhiasan terindah seorang mu’min, dan inilah sifat yang menghiasi diri para sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dan telah Allah abadikan dalam al-Qur’an :

والذين تبوؤوا الدار والإيمان من قبلهم يحبون من هاجر إليهم ولا يجدون في صدورهم حاجة مما أوتوا ويؤثرون على أنفسهم ولو كان بهم خصاصة ومن يوق شح نفسه فأولئك هم المفلحون (9)
“Dan orang-orang yang menempati kota Madinah dan telah beriman (Anshar) sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin), mereka mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Dan mereka tiada menaruh keinginan dalam hati mereka terhadap apa-apa yang diberikan kepada mereka (orang muhajirin), atas diri mereka sendiri. Sekali pun mereka memerlukan (apa yang mereka berikan itu).Dan siapa yang dipelihara dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (al-Hasyar :9)

Dan telah keliru persepsi sebagian orang yang memaknai kata “zuhud” ini, dengan berasumsi bahwa zuhud itu identik dengan hidup miskin dan meninggalkan hiasan dunia secara mutlak. Padahal yang kaya pun bisa bersifat zuhud, sebab kekayaan juga adalah karunia Allah Azza wa Jall kepada sebahagian hambaNya sebagai ujian dalam bentuk ni’mat; bersyukurkah dia atau kufur!.Yaitu, ketika orang kaya tidak berlebihan dan tidak melampaui batas dalam membelanjakan hartanya, ber-istifadah darinya sesuai standar kebutuhannya, dan tidak terpedaya dengannya untuk berbekal dan berbenah diri demi kebahagiaan akhiratnya.
Para sahabat adalah teladan terbaik yang telah mengaplikasikan kezuhudan itu, meski mereka berlimpah harta. Telah disebutkan dalam hadits bahwa beberapa orang sahabat berkata :

(يا رسول الله! ذهب أهل الدثور بالأجور، يصلون كما نصلي، ويصومون كما نصوم، ويتصدقون بفضول أموالهم).
“Ya Rasulullah, orang-orang kaya telah mengumpulkan pahala yang banyak, mereka shalat sebagaimana kami shalat, mereka puasa sebagaimana kami puasa, dan mereka bersedekah dengan kelebihan hartanya?.”
Dunia yang telah ada di genggaman justeru meyibukkan mereka untuk meraih kebahagiaan akhirat, bukan sekadar untuk dinikmati dan bersenang-senang di dunia. Sebab, iman-lah yang menentukan arah harta itu, bukan syahwat, agar tidak hanya bisa dinikmati di dunia, sirna tanpa bekas, namun yang paling utama adalah bagaimana menikmatinya kelak di akhirat dalam wujud kenikmatan yang lebih sempurna.
Inilah jawaban dari seruan Allah Azza wa Jall :

“Dan carilah dari apa-apa yang Allah telah karuniakan padamu (untuk kepentingan) negeri akhirat, tetapi jangan engkau lupakan bagianmu dari dunia”(QS.al-Qashas : 77)

Lihatlah sahabat mulia; Utsman Bin Affan radiallahu ‘anhu di perang Tabuk. Ketika manusia dalam kondisi yang amat kritis. Para sahabat yang tidak mampu, mendatangi Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk meminta bekal yang akan dipakai untuk berjihad. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata :”Aku tidak mendapatkan apa-apa yang bisa kalian bawa”. Meraka pun kembali dengan linangan air mata-sedih sebab akan terlewatkan peperangan bersama seorang Nabi tercinta Shallallahu ‘alaihi wa sallam, padahal mereka telah mendapat udzur. Pantaslah jika disebutkan dalam hadits, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda ketika berada di Tabuk :
إن بالمدينة لرجالاً ما سرتم مسيراً، ولا قطعتم وادياً إلا كانوا معكم، حبسهم العذر
“Sesungguhnya di Madinah terdapat para lelaki yang mana tidaklah kalian menapaki jalan, menyeberangi lembah kecuali mereka menyertai kalian (dalam meraih pahala), mereka telah terhalangi ‘udzur.”
Hati mereka bersama para sahabat di medan jihad, walau jasad mereka tertinggal di Madinah. Maka Utsman radiallahu ‘anhu datang pada hari perang Tabuk dengan harta beliau; 300 ekor unta lengkap dengan segala bekal yang diperlukan dalam berjihad.
Godaan harta yang menggunung itu, sekali-kali tidak mampu memperdaya beliau. Sebaliknya beliau sanggup mengarahkannya untuk kepentingan akhirat dan meraih cinta Allah Azza wa Jall.

Dan inilah Aisyah; Ummul mu’minin radiallahu ‘anha, Ketika Allah telah melimpahkan ni’matnya kepada kaum Muslimin dengan banyaknya pembebasan negeri-negeri kaya, dan harta berlimpah pun dikirim kepada beliau, yang di antaranya, Muawiyah radiallahu ‘anhu mengirim kepada beliau seribu dirham. ‘Urwah ibnu az-Zubair radiallahu ‘anhuma berkata; “Demi Allah, tidak sampai sore hari hingga habis terbagi’. Ketika sore hari, beliau pun;Aisyah radiallahu ‘anha meminta makanan kepada pelayannya, maka berkatalah pelayan itu; “Bisakah anda membeli untuk kami sedirham daging! “, Aisyah menjawab; “Kenapa engkau tidak mengatakannya padaku!?”, – dalam riwayat lain- “andai saja engkau mengingatkanku maka aku akan lakukan!”. Karena kepentingan kaum Muslimin serta kezuhudan beliau, beliau telah melupakan kebutuhannya sendiri dengan membagi seluruh harta tersebut, tanpa sepeser pun yang terlintas di pikirannya.

Sifat zuhud dan karm (dermawan) itu tentu tidaklah muncul begitu saja, kecuali karena adanya kepuasan jiwa dan kekayaan hati yang tumbuh dari kebeningan iman. Apa pun yang ada di tangan adalah banyak namun mudah tersalurkan kepada kebaikan. Sebaliknya, miskin hati atau jiwa membuat segala sesuatu terasa kurang dan seakan membelenggu batin untuk diinfaqkan kedua tangan. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

(لو كان لابن آدم واد من ذهب لتمنى ثانياً، ولو كان له واديان لتمنى ثالثاً، ولا يملأ جوف ابن آدم إلا التراب …)
“Seandainya anak Adam memiliki selembah emas, ia akan berharap keduanya, jika ia memiliki dua lembah (emas), ia akan mengharap ketiganya. Dan anak adam tidaklah mengisi perutnya kecuali tanah.”

Benar sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam memaknai ‘kekayaan’, ketika beliau bertutur:

ليس الغني عن كثرة العرض ولكن الغني غني النفس ( متفق عليه )
“Bukanlah orang kaya itu karena banyak harta, tetapi yang kaya adalah yang berjiwa puas.”
Saad bin Abi Waqqash radiallahu ‘anhu berwasiat kepada putranya: “Wahai putraku, jika engkau mencari kekayaan, maka carilah dengan qana’ah (kepuasan jiwa), sesungguhnya ia adalah harta yang ‘tak kan pernah habis.”
Abu Hazm telah ditanya “Apakah hartamu?”, beliau menjawab: “Aku memiliki dua harta yang aku tidak akan pernah takut miskin dengannya; ‘keyakinan kepada Allah’ dan ‘tidak berharap apa yang ada di tangan manusia’.”

Apakah yang telah menjadikan hati mereka terbingkai indah seperti ini?, tiada lain karena mereka memahami bahwa berikap zuhud terhadap dunia adalah kunci meraih cinta allah Azza wa Jall untuk membuka pintu surgaNya, dan karena Allah sendiri telah menghinakan dunia ini bagi hamba-hambaNya yang beriman.

وما هذه الحياة الدنيا إلا لهو ولعب وإن الدار الآخرة لهي الحيوان لو كانوا يعلمون (64)
“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main.Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui. (QS. 29:64)

http://kampussamudrailmuhikmah.wordpress.com/


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 743 pengikut lainnya.