Cerita Tentang Walangsungsang ( Prabu Kiansantang )


Dalam beberapa kisah Pangeran Cakrabuana atau Walangsungsang dianggap sama dengan Kiansantang, padahal dalam kisah lainnya Pangeran Cakrabuana banyak juga yang menyebut namanya dengan sebutan Arya Santang.

Kiansantang dalam cerita lain sering dianggap sebagai seorang anak yang berupaya mengislamkan Prabu Siliwangi (ayahnya), sehingga terjadi peperangan. Padahal kejatuhan Pajajaran terjadi jauh-jauh hari pasca wafatnya Sri Baduga. Tidak ada alasan seorang raja yang memiliki tahta penuh harus ngalalana lantaran dikejar-kejar anaknya, sementara dia sendiri masih bertahta sebagai raja yang berkuasa. Ada juga yang menyebutkan bahwa Kiansantang adalah nama lain dari Rajasangara yang dikebumikan di daerah Godog – Garut. Ia termasuk penyebar islam di Jawa Barat.

Dalam cerita lainnya Kiansantang dianggap tilem dan tetap kokoh ngagem agama leluhurnya. Ia dianggap benteng budaya sunda yang tak lekang ditelan waktu tak luntur ditelan masa. Tapi patut pula diakui, bahwa kesimpang siuran penafsiran Kiansantang membawa pada pemahaman yang kurang pas tentang sosok sejarah Cakrabuana, bahkan ada yang menafsirkan bahwa Kiansantang bukan Arya Santang. Namun mudah mudahan kedepan ada sejarawan yang mampu menguak tabir ini, tentunya melalui cara pemisahan antara mitos dan sejarahnya yang hakiki.

Siapa Cakrabuana ?
Perkawinan Sang Pamanahrasa (Sri Baduga Maharaja) dengan Nyi Mas Subanglarang, putri dari Ki Gedeng Tapa, memperoleh putera dan putri, yakni Walangsungsang, Rara Santang dan Rajasangara. Sang Pamanah Rasa mempersunting Nyi Mas Subanglarang setelah terlebih dahulu mengalahkan Raja Sakti Mandraguna dari wilayah Cirebon, yakni Amuk Murugul. Dengan demikian, baik dari Sirsilah ibu maupun ayah, Walangsungsang masih teureuh Niskala Wastukancana.

Subanglarang sebelum dipersunting Sang Pamanahrsa terlebih dahulu telah memeluk agama Islam. Ia pun alumnus dari Pesantren Quro yang didirikan oleh Syeh Hasanudin atau Syeh Quro (bukan Sultan Hasanudin). Menjadi tidak mengherankan jika putra-putrinya memeluk agama Islam dan direstui oleh Sang Pamanahrasa.

Bahwa memang ada cerita tentang keluarnya ketiga bersaudara tersebut keluar lingkungan istana Pakuan disebabkan ada perselisihan tahta antara Subanglarang dengan Kentring Manik Mayangsunda. Namun ada pula yang menceritakan bahwa keluarnya Walangsungsang dari lingkungan Pakuan bersama adiknya, Nyi Mas Rarasantang dilakukan dengan seijin ayahnya, sedangkan Rajasangara tetap berada dilingkungan Pakuan. Untuk kemudian tahta Pajajaran diteruskan oleh Surawiesa putra Sri Baduga dari Kentring Manik Mayangsunda. Bahkan ketika masih menjadi Prabu Anom Surawisesa, pajajaran mengadakan perjanjian dengan Portugis (1512 M) disebut-sebut perjanjian ini merupakan kali pertama yang di dokumentasikan dengan baik.

Yoseph Iskandar didalam bukunya menjelaskan, bahwa : pada suatu ketika, Walangsungsang bersama adik-adiknya meminta izin secara baik-baik kepada ayahandanya, untuk pergi ke Kerajaan Singapura (Cirebon). Alasan Walangsungsang dan adik-adiknya yang utama dikemukakan secara terus terang kepada ayahnya. Walangsungsang yang berstatus Tohaan (Pangeran), juga adik-adiknya, merasa bertanggung jawab untuk meningkatkan kualitas dirinya sebagai putera-puteri Maharaja. Mereka merasa haus akan ilmu pengetahuan, terutama dibidang keagamaan. Ketika ibunya masih hidup, mereka ada yang membimbing, tetapi ketika ibunya telah wafat, di Pakuan tidak ada orang yang bisa dijadikan guru mereka. Tidak Ada lagi penenang batin yang memadai bagi mereka.

Sri Baduga Maharaja, ketika itu masih berstatus Prabu Anom, bahkan mertuanya (Prabu Susuktunggal) masih dibawah kekuasaan kakeknya, Sang Mahaprabu Niskala Wastu Kancana. Sri Baduga Maharaja atau Prabu Anom Jayadewata, sangat maklum atas keinginan ketiga puterinya itu. Dengan berat hati ia hanya mengijinkan Walangsungsang dan Rara Santang, sedangkan Rajasangara dimohon tetap tinggal di Pakuan.

Tentang Rajasangara ini mungkin pada suatu waktu menimbulkan penafsiran yang berbeda, terutama ketika ia diindetifisr sebagai Kiansantang. Padahal nama Rajasangara sangat jarang disebut sebut dalam sejarah lisan dan kalah tenar dibandingkan dengan Kiansantang. Namun sangat sulit mencari sejarah yang ditulis resmi tentang Kiansantang.

Pengembaraan
Didalam cerita masa lalu, pengembaraan seorang anak raja guna menambah ilmu dan memperluas cakrawala bathinnya merupakan faktor penting bagi perkembangan kepribadiannya. Hal ini sama ketika dilakukan oleh Niskala Wastu Kancana yang mengembara ke wilayah Sumatera, atau Sri Baduga sebelum menduduki tahta Pajajaran. Dalam dokumen resmi pun demikian, seperti yang diketahui tentang Bujangga Manik, yang kelak dikemudian hari banyak dirujuk sebagai topografi untuk wilayah pada saat itu.

Demikian pula dalam kisah Walanagsungsang, sebagai seorang yang haus akan ilmu Pangeran Walangsungsang kemudian memohon pamit juga kepada Ki Gedeng Tapa untuk berguru mencari ilmu ditempat lain.

Sulit dibayangkan oleh para peminat sejarah yang kadung mendikotomi ageman ketika ada kisah Walangsungsang memperistri Indang Geulis, putri dari Ki Danuwarsih, seorang pendeta Budha. Hal ini terjadi ketika Walangsungsang melakukan pengembaraan ke wilayah Timur. Hingga pada suatu hari ia tiba di padepokan Ki danuwarsih, seorang pendeta agama Budha. Ki Danuwarsih adalah anak seorang pendeta Budha, Ki Danusetra yang berasal dari Gunung Dihyang (dieng), kemudian menjadi pendeta di Keraton Galuh, ketika ibukota Kerajaan Galuh masih di Karang Kamulyan, Ciamis.

Pemaknaan lainnya mungkin juga dapat diambil ketika Walangsungsang berguru tanpa ia pun harus meninggalkan agamanya. Yoseph Iskandar menafsirkan, bahwa : Mungkin saja ia ingin mengetahui agama Budha, hanya sebagai studi perbandingan.

Didalam buku yang sama Yoseph Iskandar menjelaskna pula, bahwa : tempat tinggal Ki danuwarsih, menurut naskah Pustaka nagara Kretabhumi parwa 1 sarga 4, hanya diterangkan di Parahiyangan bang Wetan. Ketika mengadakan “Penelitian Bahasa Sunda” di Kabupaten Pakalongan atas prakarsa Lemit Unpas tahun 1989, dikecamatan Paninggaran, terdapat beberapa situs, diantaranya makam keramat Embah Wali Tanduran ; makam Pajajaran di bukit Sigabung, dan makam Pajajaran di Pacalan Kampung Sebelas.

Pada saat dilakukan penelitian, sesepuh dan rakyat di Paninggaran, tidak pernah mengetahui asal usul nama daerahnya. Ada yang mengatakan Paninggarang itu berasal dari kata “menginggar-inggar” (penuh kegembiraan). Dalam bahasa Sunda sangat jelas bahwa arti dari kata paninggarang adalah pemburu dalam bahasa Indonesia.

Setelah diterangkan bahwa paninggaran itu artinya pemburu, para sesepuh menerangkan, sesungguhnya Embah Wali Tanduran itu dulunya seorang pemburu. Bahkan orang tua mereka (penduduk asli Paninggaran), semuanya mahir berburu. Mereka membuktikannya dengan memperlihatkan tombak-tombak pusaka dan panah pusaka peninggalan leluhurnya, yang khusus hanya digunakan untuk memburu.

Makam Embah Wali Tanduran sebenarnya bukan makam, tetapi pasarean atau patilasan, bekas Pangeran Cakrabuana. Begitu juga yang disebut makam Pajajaran di bukit Sigabung, adalah pasarean tempat pangeran Cakrabuan menyepi. Kalau makam Pajajaran yang berada di Pacalan Kampung Sebelas, itu tempat tinggalnya Pangeran Cakrabuana. Tentu masyarakat tidak akan berani merusak batu-batu yang berada disana, karena suka bertemu dengan harimau putih dari Pajajaran.

Pangeran Cakrabuan nama lain dari Walangsungsang. Menurut KH Syarifudin, patilasan-patilasan (situs) Pangeran Cakrabuana banyak terdapat tersebar di beberapa kecamatan. Setelah melihat peta Kabupaten Pekalongan, patilasan-patilasan tersebut dapat dihubung-hubungkan melalui garis lurus, terbentang antara Gunung Dieng (Dihyang) sampai Cirebon.

Berdasarkan identifikasi mungkin saja Walangsungsang pernah tinggal di padepokan agama Budha di dataran tinggi Dieng. Atau pada waktu itu dataran tinggi Dihyang (Dieng) masih termasuk wilayah “Parahiyangan bang Wetan”. Kalau indentifikasi tersebut “benar”, mungkin ketika Walangsungsang, Indang Geulis, dan Rara Santang, pulang ke Cirebon, melalui jalur dan melewati Paninggaran.

Pada tanggal 14 bagian terang bulan Caitra tahun 1367 Saka atau Kamis tanggal 8 April 1445 Masehi, bertepatan dengan 1 Muharam 848 Hijriah, Walangsungsang membuka perkampungan baru dihutan pantai kebon pasisir, diberi nama Cirebon Larang atau Cirebon Pasisir. Nama tersebut diambil berdasarkan nama yang sudah ada, yaitu kerajaan Cirebon yang terletak dilereng Gunung Cereme yang pernah dirajai oleh Ki Gedeng Kasmaya (putera sulung Sang Bunisora). Ketika Cirebon Pasisir sudah berdiri, kawasan Cirebon yang dilereng Gunung Cereme kemudian disebut Cirebon Girang. Ki Danusela menjadi kuwu yang pertama, dan Ki Samadullah terpilih menjadi pangraksabumi, dengan julukan Ki Cakrabumi yang kemudian dijuluki pula Pangeran Cakrabuana.

Setelah menunaikan ibadah haji, Pangeran Walangsungsang alias Ki Samadullah alias Pangeran Cakrabuana, mendapat nama baru, Haji Abdullah Imam. Begitu juga adiknya Rara Santang mendapat nama baru sebagai Hajjah Syarifah Muda’im.

Haji Abdullah Imam bermukim selama 3 bulan di Mekkah. Ketika dalam perjalanan pulang ke Jawa Barat sempat singgah di Bagdad (Irak) dan Cempa (Indo Cina). Di Cempa, Haji Abdullah Imam berguru kepada Syeh Ibrahim Akbar. Haji Abdullah Imam dijodohkan dengan puterinya dan dibawanya pulang ke Cirebon. Setibanya di Cirebon, isterinya Indah Geulis telah melahirkan seorang puteri kemudian diberi nama Nyai Pakungwati.

Kemudian Haji Abdullah Imam memperisteri Ratna Riris, puteri dari Ki Danusela dan namanya diganti dengan Kancana Larang. Ketika Ki Danusela wafat, Haji Abdullah Imam terpilih menjadi kuwu yang kedua di Cirebon Larang. Selanjutnya setelah Ki Gedeng Tapa (kakeknya) wafat, Haji Abdullah Imam tidak mendapat warisan tahtanya, melainkan mendapat warisan harta kekayaan yang berlimpah.

Bermodal warisan harta kekayaan dari kakeknya, Haji Abdullah Imam mendirikan keraton yang kemudian diberi nama Keraton Pakungwati, diambil dari nama puterinya. Kemudian Haji Abdullah Imam mendirikan tentara kerajaan.

Hubungan Cirebon – Pajajaran
Memperhatikan puteranya telah berhasil membuat kerajaan Islam pertama di Pajajaran, Sri Baduga Maharaja mengutus Ki Jagabaya (Perwira Angkatan Perang Pajajaran) beserta pengiringnya, juga turut serta Rajasangara (adik bungsu Haji Abdullah Imam), untuk merestuinya. Di keraton Pakungwati, Haji Abdullah Imam dinobatkan sebagai raja daerah dengan gelar Sri Mangana.

Walangsungsang direstui ayahnya untuk menjadi penguasa Cirebon namun secara sukarela ia menyerahkannya kepada keponakannya, anak dari Rarasantang, yaki Syarif Hidayat. Sekalipun demikina ia pun masih mampu bertindak sebagai pelindung Cirebon.

Secara politis hubungan Pajajaran dengan Cirebon sangat tergantung dari hubungan Sri Baduga dengan Walangsungsang. Hal ini mengalami masa krisis ketika Syarif Hidayat, atas dasar saran para wali memproklamirkan Cirebon sebagai negara yang merdeka, dengan Raja pertamanya Syarif Hidayat. Pada masa itu Sri Baduga akan mengirimkan pasukan untuk menyerang Cirebon, namun berhasil dicegah oleh Purohita (pendeta tertinggi keraton), dengan alasan tidak baik seorang kakek memerangi anak (walangsungsang) dan cucunya (Syarif Hidayat). Cirebon akhirnya menjadi negara merdeka.

Memang kekhawatiran Sri Baduga terhadap Cirebon karena terlalu rapatnya hubungan dengan Demak, terutama pasca pernikahan keturunan Cirebon dengan Dengan dan gadirnya armada laut Demak di Cirebon. Padahal Pajajaran memiliki kekuatan pasukan darat namun sangat lemah di laut.

Hubungan dagang Demak – Cirebon makin menyulitkan perdagangan Pajajaran dengan dunia luar. Dalam teori politik ekonomi dimungkinkan hubungan Demak – Cirebon bukan hanya menyangkut masalah pengembangan agama, melainkan juga hubungan dagang. Untuk menjaga wilayahnya, Sri Baduga kemudian membuat perjanjian dengan Portugis. Hal yang sama dilakukan oleh Hasanudin (1546) ketika Banten dan Cirebon membantu Demak untuk menyerang Pasuruan, sama-sama negara islam.

Dalam melaksanakan perjanjian, dari Pajajaran diwakili oleh Surawisesa, putra mahkota. Dalam hikayat ini dimitoskan pula kisah Mundinglaya Dikusumah yang melawan Guriang. Kelak Guriang ini di tafsirkan sebagai orang-orang Portugis yang berbadan tinggi dan besar jika dibandingkan dengan orang sendiri.

Pasca wafatnya Sri Baduga keseganan Cirebon terhadap Pajajaran menjadi berkurang. Perang antara keduanya terjadi selama lima tahun. Di front lainnya Galuh masih merasa memiliki ikatan sejarang dengan Cirebon, karena Cirebon dahulu berada dibawah daulat Galuh, hingga Galuh melakukan penyerangan ke Cirebon.

Ketika Cirebon sedang mempersiapkan penyerangan yang ditujukan ke Daerah Talaga, peperangan terhenti ketika Syarif Hidayat mendapat berita, bahwa Walangsungsang pendiri Pakungwati dan pelindung Cirebon wafat (1529 M). Dengan demikian Cirebon kehilangan sosok pelindung yang dapat diandalkan.

Walangsungsang disebut-sebut memiliki andil yang dominan mencegah pertumpahan darah, ketika pasca pengadilan Syekh Siti Jenar yang dilakukan Walisongo dihukum mati, ia berhasil mencegah penguasa Cirebon untuk menghukum semua penganut Syi’ah.

Demikianlah kisah seorang pembaharu teureuh Sunda yang memiliki andil besar dalam kisah penyebaran agama islam dan membangun Kota Cirebon. Ia pun memberikan pelajaran bagi kita semua, bahwa tahta bukan segala-galanya. Sebagaimana yang ia contohkan ketika harus menyerahkan tahta Cirebon kepada keponakannya sendiri, yakni Syarif Hidayat.

Dari cerita ini pula kedepan diharapkan ada kupasan yang lebih mendetail tentang pembedaan pengaruh penyebaran islam dengan ekspansi dagang yang kadang harus bercaruk, sulit dipisahkan, sehingga sulit menarik benang merahnya. (cag heula).

About these ads

33 Tanggapan to “Cerita Tentang Walangsungsang ( Prabu Kiansantang )”

  1. surip Says:

    wah..giliran jaga pertama nech om

  2. dylan Says:

    Alhamdulillah.. Semoga sejarah ini bermanfaat untuk keturunan anak cucu orang-orang sunda, cirebon dan banten.. Amein!

  3. dylan Says:

    Subhanalloh.. Alhamdulillah.. Semoga sejarah ini akan membangkitkan rasa persaudaraan orang-orang sunda, cirebon, dan banten untuk mempertahankan kearifan lokal dan membangun daerahnya.. Amein!

  4. Bregud Says:

    Menurut ane nih…..orang yang paling berjasa bagi perkembangan islam dijawa barat ( kususnya di cirebon ), adalah Raden walangsungsang, ya P.Cakrabuana,ya Raden Gagak Lumayung, ya Mbah Kuwu Cerbon, ya Kyai somadullah.
    Sedangkan Raja sangara = Ki An santang = Sunan Rahmat Suci
    wallahu’alam bishawab

  5. KiMaster Says:

    Bagus

  6. aang Says:

    ada yg ingin tau tentang kerajaan Pajajaran, kirim E mail ke; ekurnia@ymail.com

  7. Ahmad HIdayat Says:

    semuanya berjasa bahkan bnyak yg bersjasa akan tetapi tak terlihat tak tersirat tapi mereka gpp
    jadi jgn bilang dia ,dia dia dan dia yang paling berjasa
    keturunan2nya pasti bilang buyutku yg paling berjasa
    tapi keturunan yg lain bilang jg byutku lah yg bnyak jsanya
    jadi tolong mereka aja tak mempermsalahkan tentang jasa
    dan sekarang bagian kalian yg membuat jasa kalu bisa
    ikuti jejaknya

  8. ina noviani Says:

    memang wajar sangat sulit mengungkap fakta sejarah perkembangan suatu negara dimasa yg sangat lampau. La wong fakta2 saat ini tentang politik, korupsi, skandal aja suliiit sekali diungkap ke publik!! Apalagi yg terjadi jaman baheula(dahulu).

  9. direktori toko online indonesia Says:

    iya apalagi sekarang di carutmarutkan dalam sinetron Raden Kian Santang…biarpun di awal cerita di tulis hanya cerita fiktif tetapi dari nama, tokoh , daerah mirip dengan aselinya , takut nanti orang salah penafsiran tentang sejarah..dan sinetron.

    Cerita yang panjang, sampai kebelit2 saya ngartiin nama julukan..banyak bener..

    • R.A.P TAUFIK AKBAR Says:

      disinetron itu memang benar alur ceritanya…….
      walangsungsang anak pertama prabu siliwangi dengan julukan mbah kuwu cirebon,cakrabumi,cakrabuana
      rarasantang anak kedua prabu siliwangi beliau ibu dari aunan gunungjati
      kiansantang anak ke tiga prabu siliwangi beliau bergelar gagak lemayung,raja sangara

      wirawisesha anak dari selir prabu siliwangi dari galuhpakuan (sekarang majalengka)

  10. R.A.P TAUFIK AKBAR Says:

    maaf cerita sebenarnya adalah PRABU PAMANARASA (SILIWANGI) MENIKAH DENGAN ANAK DARI SYEKH QURO YAITU NYI SUBANGLARAN PRABU SILIWANGI SUDAH ISLAM SAAT MENIKAHI SUBANGLARANG MEREKA DIKARUNIAI 3 ORANG ANAK
    1.WALANGSUNGSANG
    2.RARASANTANG
    3.KIANSANTANG (RAJA SANGARA)

    KEMUDIAN MEREKA BERTIGA DIANGKAT JADI RAJA PADJAJARAN TAPI MENOLAK DAN MEMILAIH BIKIN NEGARA SENDIRI YAITU PAKUNGWATI ATAU KESULTANAN CIREBO KARENA DI PADJAJARAN ADA YANG NGOTOT INGIN JADI RAJA YAITU ARYA WIRAWISESHA ANAK DARI SELIR PRABU SILIWANGI DARI GALUH PAKUAN.

    PRABU SILIWANGI MURTAD KARENA SUBANGLARANG MENINGGAL DAN MINTA DIHIDUPKAN KEMBALI OLEH SYEKH QURO TAPI MAKHLUK YANG MATI TIDAK BISA HIDUP KEMBALI

    PRABU SILIWANGI PUN MURKA DAN MULAI BERTAPA DI CIPADUNG BELIAU MEMELUK HINDU KEMBALI

    SETELAH DIPROKLAMASIKAN KASULTANAN CIREBON PRABU SILIWANGI DIADU DOMBA OLEH PRABU WIRAWISESHA TERJADILAH PERANG ANTARA CIREBON DAN PADJAJARAN

    JADI KINSANTANG BUKANLAH WALANGSUNGSANG (MBAH KUWU CIREBON/CAKRABUANA 1)
    KARENA WALANGSUNGSANG ADALAH KAKAK DARI KIAN SANTANG

    MAKASIH
    SAYA DARI KASULTANAN CIREBON

  11. adi putra Says:

    jadi bingung mana anu bener sejarah teh……

  12. dede Says:

    KALO MENURUT SAYA ,SEMUA KISAH BENAR,, YANG SALAH ITU ORANG YG TIDAKMAU,SOLAT DAN BERIMAN, . kita seagai orang islam harus pintar, jangan mudah di propokatori oleh orang2 yg sengaja memperpecah belah islam, MARI KITA RAPATKAN BARISAN.MARI KITA PERJUANGKAN ISLAM

  13. rdSalsabila Zahra Says:

    kalo tentang kekuatan-kekuatan saktinya itu bener gk sih yang ada di sinetron ?

  14. Salsabila Zahra Says:

    kalo tentang kekuatan-kekuatan saktinya itu bener gk sih ? yang ada di sinetron “kian santang” ?

  15. hery Says:

    sy percaya 100%. kalau pun tak ada nya bukti sejarah… khusus di daerah bogor, banten, garut, tasik dll nya daerah jawa barat. dulu itu mereka buat bangunan terbuat dari kayu sehingga tidak kuat dengan waktu. ada pun bukti2 seprti logam2 dan lain nya sering di temukan di dalam tanah… thx.

  16. Salsabila Zahra Says:

    sebenarnya siapa raja terakhir dari kerajaan pajajaran ?

  17. Salwana Wafa Says:

    Padjajaran adalah kerajaan hindu Y̶̲̥̅̊a̶̲̥̅̊n̶̲̥̅̊g̶̲̥̅̊. Terletak di Jawa Barat,dan juga aku suka nonton Raden Kian Santang di MNCTV itu mengisahkan tentang Padjajaran dan Raden Kian Santang

  18. Galuh Pakuan Says:

    sedikit ikut berkomentar saja, bahwa cerita di atas pada saat itu berdiri Nagara Pakuan Pajajaran sebagai penerus dari Sri Baduga Maharaja Wastukencana 1425 – 1499 Siliwangi I yaitu bergelar Sri Jaya Dewat, Raja Sunu Pamanah Rasa alias Surawisesa Alias Sumadulloh alias Munding Laya Dikusumah yang menikah dengan Nyi Putri Buni Wangi alias Nyi Ambet Kasih alias Binokasih Putri dari Rakean Wastu Kancana yang berkedudukan di Maja Lengka (di daerah tersebut salah satu daerahnya ada nama leuwi munding) Siliwangi II Prabu Ratu Dewata alias Rakean Munding Wangi alias Prabu Layang Setra alias Raden Batik Panganginan Dalem Cikundul alias Wiratanu Datar I Cianjur, kakak dari Nyi Ambet Kasih yang menikah dengan Putri Djin (bukan Jin makhluk halus) berkedudukan di Cianjur (administratif sekarang). Siliwangi III yaitu Munding Sari beristrikan Nyi Subang Larang atau Ratna Ningrum Putri dari Ningrat Kancana sebagai Prameswari sekaligus Nyi Subang Larang tersebut merupakan cucu dari Sunan Giri, Lara Santang alias Subang Karancang ditikahinya sebagai Padmi dan Cakrabuana pun mendapat gelar Munding Kawati, karena menikah lagi dengan Subang Karancang alias Lara Santang alias Ratna Wulan anak dari Damar Wulan alias Tan Swan Liong, karena pertikahan tersebut Cakra Buana mendapat julukan Walang Sungsang….

  19. Galuh Pakuan Says:

    adapun kian Santang alias Tan Kin San meupakan kakak dari Ratna Wulan yang merupakan keturunan dan Tan Swan Liong…

    pada saat itu semua para Raja – Raja di tanah Pulau Jawa menganut agama Islam….

    Islam di masuk ke wilayah Jawa bukan oleh pedagang Arab…

    terjadinya pertentangan di atas merupakan suatu peristiwa “politik”…termasuk sejarah dulu di buat dan dibelokkan sedemikian rupa….hingga kebajikan2 yang selalu menghiasi kehidupan pada saat itu dibelokkan….termasuk pada saat ini melalui sinetron…

    kadang dalam sekilas begitu rumitnya….itulah permainan “politik” yang terus digerus hingga saat ini….

    dan yang jelas para Raja tersebut agamanya Islam…karena merekan punya gelar kaulamaannya…..

  20. reinkarnasi fals Says:

    kiansantang itu beda dengan walang sungsang bos, mohon jangan ada opini opini yang merendahkan beliau

  21. Galuh Pakuan Says:

    ini bukan opini bos…coba buka kidung sundayana…jelas siapa kian san tang…siapa walangsungsang….???….

    “baca” sejarahnya harus membaca ada apa di balik sejarah itu sendiri….

    • raja phandita Says:

      P.jayadewata/Pamanah Rasa adalah putra mahkota dari kerajaan galuh pakuan putra prabu Dewa Niskala. K.Galuh ada didaerah ciamis sekarang. P jayadewata menikah dengan putri mahkota kerajaan pakuan Sunda yaitu Nyi Kentring Manik mayang sunda Ken buniwangi putri dari raja sunda Prabu Susuktunggal. K sunda ada dibogor sekarang..terjadinya pernikahan antara P jayadewata dan Nyi kentring manik maka meleburlah 2 kerajaan sunda dan galuh menjadi Krajaan Pajajaran , dirajai oleh P jayadewata. bergelar Siliwangi Sribaduga Maharaja. kemudian Prabu sribaduga siliwangi menikah dengan murid syeikh quro yakni Nyi Subang larang dan memiliki putra Walangsungsang/cakrabuan/mbu kuwu cirebon, Rarasantang /ibunda syeikh syarif hidayatulloh sunan gunung djati cirebon dan Keansantang /syeikh rakhmat suci godog tasikmalaya…istri p sribaduga yg ke 3 ialah nyi Ambet kasih majalengka.
      Karena Permaesuri kerajaan pajajaran adalah Nyikentring manik mayang sunda otomatis trah kerajaan pajajaran turun keputra mahkota yakni prabu surawisesa, raja terakhir pajajaran adalah prabu Suryakenca.
      Pajajaran Menghilang bersamaan dengan Mokswanya P.Suryakencana di lembah suryakencana gng gede Pangrango…sebagai tanda pajajaran ada dan akan muncul kembali maka dititpkannya mahkuta pajajaran kekerajaan Sumedang larang pada Raja Geusan Ulun turunan raja Agung Tajimalela raja pertama kerajaan sumedang
      saat akan mokswa dan menghilangnya pajajaran. P Suryakencana memberikan Pesan terakhir pada keluarga,wadyabalad dan rakyatnya dengan pesan itu dikenal sekarang disebut Uga Wangsit Siliwangi
      …….SANGKURIANG NAGIH JANJI BANDUNG KELEM SUMEDANG JAYA. SIMA WIWAHA

  22. gugun Says:

    gan,,kalau prabu kian santang yang di godog garut,,,apa ada hubungannya dengan prabu walangsungsan…?

  23. Pelurus Sejarah Islam di Indonesia Says:

    Salwana Wafa Berkata:
    17 Oktober 2012 pada 19:23 | Balas

    Padjajaran adalah kerajaan hindu Y̶̲̥̅̊a̶̲̥̅̊n̶̲̥̅̊g̶̲̥̅̊. Terletak di Jawa Barat,dan juga aku suka nonton Raden Kian Santang di MNCTV itu mengisahkan tentang Padjajaran dan Raden Kian Santang

    ===================================================

    Ini lagi orang bego bin Bloon alias oon, bertugas membelokkan sejarah, Pajajaran itu kerajaan Islam Begoooo,….bukan kerajaan Hindu,!!!!

    Loe baca Buku Karangan Mansur Suryanegara, dari situ loe akan Tahu Sejarah Dengan benar

  24. Dhilan Djalani Kusumaputra Says:

    SubhanaAlloh……

  25. Ery Says:

    Tidak heran kalau sejarah tatar Sunda banyak yang serba kacau dan gak jelas, soalnya banyak diantara tokoh cerita tersebut yang cuma imajiner atau dongeng palsu.
    Sejak lahirnya, agama Islam memang dipenuhi oleh HOAX (berupa dongeng palsu) yang sengaja dibuat oleh kalangan Islam sendiri untuk melindungi/memperkuat Islam.
    Sampai saat inipun ditengarai umat Islam adalah produsen HOAX (dongeng palsu) nomor satu di dunia. Hoax itu dibuat untuk menujukan seolah-olah islam adalah agama yang paling benar. Contohnya : Neil Armstrong masuk Islam, Napoleon itu Islam, bahkan Paus Benediktus dibilang masuk Islam (ampun dech . .)
    Tidak heran banyak kalangan menilai Islam sebagai ‘Deception Religion’ . . . agama yang hidup dan besar karena memperdaya kaum non-muslim dan bahkan juga memperdaya umat muslim sendiri.

  26. pasundan Says:

    heh kampret jngn banyak komentar tentang islam, sok tauk banget sih lo.

  27. Galuh Pakuan Says:

    hehehehehehehe……nya kitu…?????

  28. pasundan wonosari Says:

    ada pribahasa kie “loba jelema nu asa pang AING na” artinya nanti banyak orang yang merasa paling pinter padahal belum tentu benar,,karena pembuktian suatu sejarah hanya bsa dengan meneliti situs sejarah nya beserta bukti2 yang lainnya,,,bukan dari omongan org atau baca internet.klo mau bener2 tau jati diri ras sunda di tanah pasundan ini mending riset ajah caranya itu baru valid…sekarang ini banyak unsur 2 politik di sejarah dengan niatan tertentu,,jdi bijaksana jdi org jgn mudah percaya,,hanya presiden pertama saja yang melestarikan budaya2 di indonesia,presiden berikut nya merubah sejarah2 budaya bangsa ini,,entah niatnya seperti ap,,,mulai dari perubahan daerah SUNDA besar menjadi pulau jawa,,dan senda kecil berubah menjadi ntt,,buktinya coba liat peta pada jaman soekarno dan soeharto,,,,@ery lu percaya klo neil amstrong (kristiani) nyampe ke bulan,,,dgn nge buat HOAX buat nge gaet umat yg lain msk kristiani?),,malu tuh sama rusia dan cina ngetawain ulah umat elu

  29. pasundan wonosari Says:

    jadi inget negara cina sedang riset buat pergi ke bulan,,,sampe ngumpulin ribuan ilmuwan seluruh dunia,,,tpi tetep ga bsa pergi ke bulan,,,dan akhir nya statmen seluruh dunia menyatakan neil amstrong dan amerika (kristiani)itu penipu menurut HBO lho wkwkkw,,,,bijak coy nyari informasi jgn di telen mentah2,,,klo emang bener dah pernah pergi ke bulan,,,pasti AS sendiri ada program rutin buat ke bulan nya dan kabar seluruh dunia pun pasti kedenger,,ini ada ga kabar nya??yg kabar nya nasa mau apalah atau apalah,,,HOAX smuanya politik umat elu yang kepengen tampil keren itu,,nah skrg ada HOAX yg lain klo nasa menemukan planet baru yang mirip bumi,,ok siap2 claim lagi itu umat kristiani penemu nya ya,,,wkwkkw kebayang baca statmen org rusia sama cina gmn gtu ke AS nya ngetawain nganggap bloon ke umat elu (kristiani) di judge penipu ulung

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 743 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: